Nury's Foot Step

Si Koper dan si Mudik

Seperti tahun-tahun sebelumnya, biasanya sepagi ini di satu hari sebelum hari raya, ami ku getol mengetuk pintu kamar ku. “Dek, ayo bangun.. Beli ketupat di pasar, kalau siang nanti keburu habis..”.
Bungkusan ketupat yang ami ku inginkan selalu spesial, bisa dua kali lebih lebar dan lebih tebal daripada biasanya. Perbandingannya, jika orang lain cukup dengan bungkusan ketupat yang harganya 150 perak/bungkus, bungkusan ketupat untuk amiku yang harganya 500-600 perak/bungkus.  Jadi sesampai di pasar, haruslah aku berkeliling ria mencari si bungkus ketupat yang sesuai dengan deskripsi ami ku, tak lupa dengan pesan sponsor andalan, “Kalau beli 50, ditawar saja jadi 400/bungkus, biasanya mau koo!”. Tetap.

Lebaran memang jadi selalu yang istimewa. Baju baru. Makanan melimpah. Rencana berkunjung ke sanak saudara. Kue-kue. THR. Bertemu keluarga. Macet. Mudik.

Bicara tentang mudik, sepertinya ritual seperti itu adalah hal wajib pada hari raya lebaran di negara kita, pun begitu di keluarga ku.  Mudik itu jadi hal wajib nomor empat (4) setelah baju lebaran, ketupat, solat id dan  kemudian mudik.

Dulu keluarga ku belum punya tas besar yang beroda dan jika ingin dibawa tinggal tarik ke sana – ke mari, koper orang menyebutnya. Gagah nian pikirku jika ada orang yang membawa koper dan disimpan di atas mobil saat mudik mereka, seperti artis-artis di sinetron yang akan pergi berlibur ke luar negeri atau bisa pula saat adegan mereka hendak kabur dari rumah karena terlibat perseteruan dengan pasangannya. Dramatis.

Koper dulu masih jadi barang mahal untuk kami. Untuk mudik, kami hanya punya dua tas besar untuk menyimpan baju kami sekeluarga, untuk abi dan amiku, dan ke-5 saudaraku yang semuanya masih di bawah umur itu, si bungsu belum lahir. Jika beruntung, ibuku bisa mendapatkan tas besar lain, hasil pinjaman dari Yu Sri-nya di Bandung. Tapi jika mentok tak dapat juga, tebak apa yang ami ku gunakan untuk menyimpan pakaian kami? Kardus bekas indomie rebus dan buntalan sarung. Itu pun sudah sangat hebat buatku. Alhamdulillah.

Lain koper, lain di mudik.
Saat kecil dulu, saat kadar kepolosan masih sangat tinggi, mobil kotak sabun abi ku adalah salah satu hal yang sangat aku sukai. Mobil kotak sabun ayah ku termasuk mobil keluaran lama dan jarang sekali masuk bengkel. Tak ber-AC memang, maka jika panas kami tinggal membuka jendela lebar-lebar dan iseng  mengeluarkan muka ke luar jendela sampai ditegur oleh abi karena itu memang sangat berbahaya. Kursinya lumayan keras. Jika hujan dan kebetulan kami sedang berada di dalamnya, siap-siap kami harus merapat ke tengah karena di setiap sisi mobil bocor.

Pernah pula kami mudik dengan menggunakan mobil box milik perusahaan abi-ku, karena si kotak sabun lagi-lagi bermasalah. Pernah suatu kali hari raya, mobil kotak sabun abi ku dalam kondisi tak beres. Pas sekali saat kami akan berangkat ke Garut, rumah nenek dan kakek dari keluarga abi. Telepon mencari travel yang bisa disewa mobilnya sungguh adalah cara yang tidak tepat, mengingat pasti banyak sekali yang hendak melakukan hal serupa. Dan akhirnya cara lain yang diambil adalah saat itu abi pergi ke jalan raya, menyetop angkot kosong, berbicara sebentar, dan akhirnya deal-lah kami mudik ke Garut dengan mengendarai angkot sewaan. Angkot cokelat jurusan TRM. Mulya – Cileunyi jadi pilihan. Kami bahagia mudik ke Garut dengan angkot cokelat itu, walau nyatanya di tengah jalan, abi-kedua abang ku, dan beberapa pemudik lain membantu saat angkot cokelat kami harus mogok dan menambah kemacetan di sekitar Nagrek.

Ada banyak hal menarik yang dapat diambil dari sekedar ketupat, angkot, buntalan sarung dan sekalipun kardus indomie bekas. Toh ternyata kebahagiaan itu bukan hanya melulu tentang koper, mobil ber-AC. Yang penting bagaimana cara kita membahagiakan diri atas semua yang dimiliki. Dan kunci semua itu adalah hanya satu: bersyukur. Mengambil pengalaman dan pelajaran berharga dari setiap yang dialami adalah hal yang sangat hebat jika kita ingin sekali menikmati kehidupan yang maha super ini, dan tak semua orang bisa melakukannya. Beruntunglah kamu jika kamu adalah salah satunya.

2 thoughts on “Si Koper dan si Mudik

  1. hallo, but these are my really notes,
    ya ok sometimes i reblog some notes, but it doesnt matter as long as i write the sources where i get it from..

    but thanks for leave some comments :-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s