Daily Activities

Ini Tentang Mereka, Episode: Sinan si Bocah Omnivora

collage

Seperti bocah dengan umur 1,5 tahun yang lain, bocah ini baru punya 5 gigi mungil. Tiga di atas dan dua di bawah. Itu saja. Yang lain masih absen belum hadir. Sinan  itu bungsu setelah kelahiran abi (panggilan “abang” dalam Bahasa Turki) nya yang lain.
Omnivora. Makanan kesukannya apa saja, yang penting enak dan dan dia belum kenyang. Eh tapi, jikalau sudah kenyang pun dia selalu ikhlas membuka mulutnya. Hobinya pun mungkin makan, menangis dan tidur. Memang tak ada yang bisa diharapkan dari bocah sekecil itu. Tapi aku yakin dia akan menjadi orang besar di waktu dewasa nanti.
Sejalan dengan hobinya, aku selalu bernggapan dia punya laser eyes pendeteksi makanan. Dan bunyi laser eyes nya itu seperti suara ubur-ubur di film Spongebob Squarepants, “bzzzzz… bzzzz… bzzzzz”.
Dengan laser eyes nya itu, jarak tiga meterpun dia akan tahu kalau ada makanan manis madu di balik kotak kayu untuk menyimpan rerotian. Buktinya dia akan lari mendekat kotak roti, tak lupa sambil bilang “maaaam… aaaam.. aaaam..” sambil menunjuk dengan jari mungilnya. Tak akan berhenti hingga Anne (panggilan “ibu” dalam Bahasa Turki) atau aku memberikan makanan si manis madu itu.
CIMG1747Sinan itu pemakan segala. Membuka keranjang sampah adalah hobinya yang lain. Dia akan berteriak kegirangan “Aaa!” karena berhasil menemukan bungkusan yogurt yang isinya tak habis di makan oleh Yunus abi-nya dan langsung dengan anteng memakannya. Selalu saja ingin “mencicipi dengan paksa” apapun yang dimakan oleh ku, Anne, Papa, atau abi-abinya.

Rutin setiap pagi, dia selalu minta jatah makan. Menangis meraung adalah kebiasaanya jika tak segera perutnya diberi isi. Tapi sekejap kemudian dia akan tertawa kemenangan karena melihat aku atau annenya mengambil makanan untuknya. Sejak itu ku tahu, menangisnya itu adalah trik bulus yang dia ciptakan jika menginginkan sesuatu. Ah, dasar bocah!
Dalam kurun waktu tiga jam, dia bisa makan tiga-empat jenis makanan ditambah segelas Cay. Roti cokelat, roti kebab, Puere (sejenis bubur instan dalam kemasan yang dibuat dari sayur dan buahan-buahan), atau dengan pisang akan dia lahap. Itu dipagi hari saja, coba bayangkan apa saja yang bisa dia makan dalam satu hari?

Jika Yunus dan Yusuf dianalogikan sebagai umat, maka Sinan adalah musuh bersama umat. Tak ada yang mau bermain Lego bersama Sinan, karena otomatis dia akan menghancurkan bangunan istana vampire yang telah Yusuf abi nya buat selama dua hari. Tak ada yang mau bermain perang-perangan bersama Sinan, karena Sinan pasti akan melempar koleksi mainan mobil-mobilannya Yunus abinya. Pun terkadang aku tak ingin bermain dengan Sinan, pasti dia akan bermain dengan guntingku saat aku sedang membuat sebuah kerajinan. Begitu pula dengan ibunya, selalu Sinan diberikannya padaku karena dia yakin Sinan akan mengganggunya saat dia membuat rencana pembelajaran untuk membantu pekerjaannya sebagai seorang guru.

Tapi Sinan tetap seorang bocah. Se-omnivora-omnivora nya Sinan, dia selalu punya sisi kelucuan yang membuat aku sangat jatuh cinta padanya.
Dibandingkan dengan abi nya yang lain, dia adalah adik asuhku yang paling rajin bersih-bersih. Sikat untuk karpet dia bawa dari keranjang, lalu dia menyapu lantai rumah yang berbahan kayu laminating, tak beralasan memang. Namun ku hargai usahanya untuk bersih-bersih itu. Dia ambil spon untuk mencuci piring, lalu dia mengelap sofa di rumah kami. Becek? Jelas. Namun setidaknya ibunya sudah tahu sejak awal kalau lelaki bungsunya ini akan sangat membantunya kelak ketika dia besar nanti.
Sinan bagaimanapun keadaanya (kecuali jika sedang lapar yaa..) selalu tersenyum. Dan senyumnya itu sangatlah innocent. Aku selalu suka saat menyuapinya, saat Sinan makan, saat dia tidur di pangkuanku sambil tangannya memelukku, saat memandikan, saat mengganti popok, saat dia berteriak, saat membantuku kerja bakti di rumah, saat dia belajar berbicara, saat terbata mengeja  “Bismillaahirrahmanirrahim” sebelum makan, saat menyisir rambutnya, saat tertawa terpingkal, bahkan saat dia marah sekalipun aku malah tersenyum. Sungguh menakjubkan bocah ini.

Ayo, dik! Cepat besar! Lihat, dunia menanti!

Duisburg, 12.24 am.
Saat mengantuk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s