Deutschland · Nury's Foot Step · Thing's that I Like

Secangkir Teh Manis untuk Ami di Musim Semi

A Cup of Tea for You
A Cup of Tea for You

Mi, masihkah ami menyeruput segelas teh manis hangat di pagi hari? Atau bila tidak, pastilah ami akan mencari segelas teh manis dingin yang telah disiapkan oleh salah satu putra-putrimu saat kau pulang mengajar. Atau bila tidak lagi, pastilah ami akan menyengajakan membuat teh manis hangat di sore hari. Semacam itu sudah menjadi ritual kewajiban buatmu, mi. Karena bila tidak ami bertemu dengan segelas teh manis, ami pasti akan berkata,
“duuh, ami itu kalo ‘ga minum teh manis sehari itu, rasanya bakal lemes banget. Kenapa ya?”

Mi, tak terasa sudah dua bulan lebih adek di sini.
Di negeri yang dulu hanya bisa adek lihat di peta lusuh yang terpampang di dinding kotor kelas 4 sekolah dasar. Di negeri yang kata orang-orang adalah negara maju. Di negara yang bahkan mungkin ami pun tak tahu ada di belahan dunia mana,
“Jerman itu Eropa ya, dek?”
“Iya, mi..”
“Eropa itu ada di atas ya, dek? (mungkin sambil membayangkan bola dunia”
“Iya, mi..”
“Berapa jam terbang dari sini?”
“Sekitar 16-18 jam lah.. Kenapa, mi?”
“Wah, ntar adek jauh dari ami dong.. Gimana?”
Adek diam lalu pergi ke kamar mandi sambil menyalakan air, biar ami tak tahu kalau adek sesegukan cengeng ditanya seperti itu.

Mi, Jerman itu benar adanya. Orangnya beraneka ragam. Rambut beraneka warna, dominan cokelat dan pirang kekinian. Warna cokelatnya rambut pun seperti punya seribu gradasi. Cokelat pekat, cokelat setengah pekat, cokelat setengah kuning, cokelat setengah putih, cokelat setengah-setengah, cokelat campur aduk, cokelat macam-macam  pokoknya, tak bisa adek jelaskan semua warna rambut yang ada di sini. Dulu, adek selalu berpikir jika bule itu adalah orang-orang hebat, orang-orang pintar dan kaya. Itulah mengapa bule tinggal di Eropa, bukan di Indonesia.
Tapi dari semua itu, satu-satunya orang hebat, kaya hati dan pintar akhlaq yang adek selalu pikirkan dan doakan  adalah orang dengan rambut hitam yang selalu terlihat dengan potongan cepak, dan hiasan uban putih sana-sini yang menandakan usianya pasti sudah tak muda lagi. Ami, engkaulah orangnya.

Mi, musim sudah berganti. Frühling – mereka sebut. Sangat berbeda dengan musim dingin yang matahari saja enggan sangat untuk sekedar menyapa “hallo!” apalagi untuk bertanya “adek sehat? Sekarang lagi apa?”, seperti yang selalu ami tanyakan jika adek menyapa lewat sambungan internet. Saat winter, orang harus membayar mahal untuk sebuah “rasa kehangatan”, mi.  Setiap rumah pasti ada penghangat ruangan (die Heizung). Dengan suhu yang bisa sampai  minus 20 derajat, adek pikir rasanya tak ada yang mau hidup tanpa benda ajaib ini.
Tapi musim sudah bukan winter lagi, mi. Matahari rasanya  tak bosan hadir menghangatkan kami di sini. Adek jadi sangat menghargai semua kehangatan yang pernah adek rasakan di Indonesia. Tak perlu ditunggu pun, matahari dengan ikhlasnya datang dan pergi sesuai dengan peredarannya. Tak pernah bosan, tak pernah lelah. Sama denganmu, mi. Ami selalu hadir kapanpun saat adek dan kami butuhkan. Bisa jadi, saat kami sudah tertidur pulas dan nyenyak bermimpi pun, engkau pasti yang akan tidur terakhir. Setelah memastikan anak-anakmu tak digigit nyamuk, pintu sudah terkunci dan selimut sudah menutupi badan kami. Bisa jadi, saat kami masih bergemul dibalik selimut hangat yang semalam engkau pakaikan, saat kami masih sibuk dengan mimpi manis dan indah kami, ami sudah terbangun. Beranjak ke kamar mandi, lantas tegak melakukan shalat malam, karena engkau tahu saat-saat itulah saat doa-doa akan sangat didengar dan saat ami sangat berada dekat dengan Allah. Apalagi yang ami minta selain kesehatan dan kemudahan untuk hidup kami – anak-anak ami? Pasti ami meminta semua yang terbaik untuk kami – untuk keluarga, entah apa ami masih ingat berdoa untuk ami sendiri? Tapi tenang saja mi, anak ami banyak, yang sayang sami ami juga banyak, pasti banyak yang akan berdoa untuk ami, malaikat pun selalu berdoa dan turut mengaminkan doa-doa dan pengharapan kami untuk ami. Tahukah mi, saat-saat paling hangat selama adek hidup adalah saat ami mendoakan, “semoga adek masuk surga ya.. ntar ketemu sama ami“, padahal saat itu adek hanya membuatkan segelas teh manis dingin untuk ami minum sepulang dari sekolah.

Kali ini musim semi, mi. Orang-orang bersuka cita, jaket super duper tebal dilepas sudah, satu lapis baju saja sudah cukup. Kafe-Kafe mulai menyediakan kursi di luar ruangan untuk para pelanggan yang sangat ingin menyesap nikmatnya teh atau kopi sambil menikmati sinar mentari, atau sekedar untuk memandang indahnya pemandangan pada musim semi kali ini.  Bunga-bunga bertebaran, mi. Indah sekali. Kuning – putih – merah jambu – ungu. Dulu-dulu saat masih dingin, pohon-pohon selalu gundul tak berdaun, hanya menyisakan batang-dahan-dan ranting kering. Sekarang mereka sudah hidup kembali, sudah mulai melahirkan daun-daun mungil, pun beraneka warna daunnya. Kagum adek melihatnya, tak bosan.

Tapi menurut adek, rumah kita selalu jadi tempat paling indah, meski bunga aneka warna tak menghiasi halaman rumah kita. Tapi kan kita punya ami, iya ga? Ami selalu tumbuh menghiasi hati kami di musim apapun. Warnanya lebih dari sejuta gradasi. Bentuknya pun tak ada duanya, sangat langka. Cuma Allah dan kami yang punya bunga itu. Mi, setiap adek lihat bunga-bunga itu, adek selalu membayangkan ami. Membayangkan ami juga akan berdecak kagum jika dapat melihat salah satu ciptaan Allah yang ada di sini ini. Membayangkan mata ami yang akan sangat lebih berbinar saat melihat semua ini. Bermimpi kita bisa sama-sama melihatnya.

Mi, rasanya di sini semua orang sangat gila belanja. Setiap hari ada saja kertas warna-warni berisi deretan kata – angka – dan gambar mampir di depan pintu rumah. Katalog penawaran produk. Rasanya orang-orang di sini tak cukup jika hanya punya sepasang sepatu. Baju tak cukup jika hanya selemari besar. Anak-anak punya ruangan bermain khusus. Mainannya banyak. Karena jika mereka tak punya mainan, mereka akan habis diolok teman sekelas dan akhirnya malu. Jadilah anak merengek pada orang tuanya, dan orang tua tak punya pilihan lain – toh mereka juga tak mau anaknya menjadi bahan celaan tak penting gara-gara hanya punya mainan sedikit, kan? Atau saat mereka tak punya produk Lego keluaran terbaru. Atau untuk anak perempuan, saat mereka mungkin tak punya mainan bayi yang bisa berbicara dan jika dininabobokan akan tertidur.
Adek jadi teringat dulu, mi. Sangat ingat. Adek cuma minta pulpen Hello Kitty merah jambu itu. Dan ami langsung bilang,
“Buat apa beli? Tuh ami punya banyak. Pake aja dulu itu. Jangan gampang minta, orang-orang di luar harus ga makan dulu buat beli satu pulpen. Kamu udah punya yang lain masih aja minta!”.
Galak memang.
Tapi apa yang adek tangkap dulu dari kalimat itu, mi?
“Ami pelit! Mau beli pulpen satu aja susah! Gimana minta yang lain? Ami ga sayang sama adek!”
Tak hanya itu, saat adek minta dibelikan tempat pensil bermotif bunga seharga lima ribu rupiah saja, sampai adek membanting pintu keras-keras pun ami tetap tak goyah dengan pendiriannya,
“Kamu masih punya, pakailah dulu yang lama”

Saat adek beranjak dewasa, saat adek tahu bahwa itu adalah pelajaran maha penting untuk kehidupan adek setelahnya. Kesederhanaan. Masih adek ingat juga, kami hanya dibelikan baju baru setahun sekali dan itu hanya saat lebaran idul fitri tiba. Saat-saat itulah saat paling membahagiakan buat kami, karena kami bisa gaya dengan baju lebaran baru ini. Tapi bagaimana denganmu, mi? Bahkan ami tak membeli untuk ami sendiri. Saat adek tanya kenapa, ami cuma bilang, “ah ami masih punya baju yang lama.. Kalian kan udah lama ga beli baju, udah kalian dulu aja..”. Padahal adek tahu, saat itu abi tak punya cukup uang untuk membeli baju untuk kami semua dan ami mengalah untuk kebahagiaan kami. Insya allah adek yakin Allah sudah menyiapkan baju terindah untuk ami pakai nanti.

Dan ikhlas serta sabar. Adalah hal yang sangat adek ingat dari ami. Ami adalah orang paling tegar, sabar dan ikhlas yang pernah adek kenal. Meski pernah amarah memuncak, pernah kata-kata paling kotor terucap karena suatu hal buruk yang sama-sama tak ingin kita alami. Ya, bagaimanapun ami juga manusia. Allah juga pasti memaklumi sikap ami saat itu. Tapi tetap, finalis sebagai orang terikhlas selalu melekat dalam diri ami.

Mi, di sini banyak sekali macam teh. Masihkah ami minum segelas teh manis hangat setiap pagi? Setiap adek minum teh, pasti adek ingat ami.
Buat adek, segelas teh manis buat ami itu adalah salah bentuk kasih sayang adek sama ami, salah satu bentuk terima kasih yang tak terhingga untuk ami. Adek memang pelit ya, mi? Ami sudah beri segalanya tapi adek hanya membuatkan segelas teh manis. Maafkan adek, mi.. Adek terlau malu untuk berkata,
“Mi, adek sayang ami. Makasih untuk semuanya.. Ami  adalah ibu terbaik di dunia..”
Padahal saat ami menangis, ingin rasanya memeluk. Saat ami sakit, ingin rasanya menyuapi. Saat ami lelah, ingin rasanya mendekat lalu memijat kaki ami. Maaf, mi.. Maaf adek terlalu malu untuk melakukan itu semua. Bukan karena gengsi tapi adek pasti menangis sesegukan ketika melakukan itu semua dan adek tak mau ami melihat adek menangis, karena ami juga akan ikut menangis dan ade akan jadi lebih menangis.

Kini siapa yang membuatkan segelas teh manis dingin untuk ami selepas pulang sekolah? Atau menyediakan air hangat untuk ami mandi saat ami merasa kedinginan, atau menutupi ami dengan selimut saat ami tertidur di kursi ruang tengah? Maaf, untuk saat ini adek belum bisa membuatkan dan menyediakannya lagi untuk ami. Maaf adek pergi jauh, meninggalkan ami, meninggalkan keluarga.
Tapi, mi.. Adek memang tak bisa membuatkan teh manis lagi untuk ami setiap hari, tapi adek harap adek bisa menghadirkannya lewat cerita-cerita adek di sini. Memang manisnya tak akan semanis cerita-cerita tentang ami yang selalu adek ceritakan pada bule-bule di sini, tapi mungkin akan lebih manis ketika dibaca sambil menyeruput manisnya teh saat pagi hari atau saat  sore hari.
Ami adalah semua yang adek butuhkan melebihi apapun. Semoga Allah senantiasa menjaga ami, memudahkan langkah ami. Adek kangen ami..

Malam hari yang bersemi di Duisburg,
10.55 pm

2 thoughts on “Secangkir Teh Manis untuk Ami di Musim Semi

  1. i’m crying while reading this post. Sy jg anak rantau, jd inget sm ibu dirumah.
    Thnks for sharing anyway..🙂

    Salam kenal.

    1. maaf sudah membuat mu menangis..
      i was crying while im writing this post too.. T.T

      memang ga ada tempat paling menenangkan selain rumah yah, hehe..

      terima kasih sudah mampir, baca dan komen..
      boleeh banget sharing2 di sini kalo punya cerita juga..

      salam kenal juga, btw! ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s