Deutschland · Nury's Foot Step

Turkish Hochzeit (Pernikahan Ala Turki)

Semalem saya menyengajakan diri dateng ke Turkish Hochzeit (Turkish Wedding) di Langenfeld, sebuah kota kecil di selatan Duisburg. Jadi sebetulnya saya diajak oleh Anne Anne (bahasa turkinya “nenek” – ibunya ibu asuh saya)  ke pernikahan salah satu tetangga Turki nya. “Yuk, kamu ikut! Biar  tau gimana tradisi orang turki kalo ngadain acara nikahan”, begitu katanya. “Kamu kan di sini belajar bahasa dan budaya, semoga ini bisa jadi salah satu pembelajaran buat kamu”, lanjutnya.

Hochzeit Karte

Singkat cerita, kami (saya, Tante Tulay – Anne Anne dan Dada (kakek)) berangkat ke Langenfeld dengan mengendarai mobilnya Tante Tulay. Jam 6 sore kami berangkat dengan arahan dari TomTom (GPS) yang menempel di dashboard nya mobil si tante. Jadi, di Jerman itu TomTom sudah seperti barang yang wajib ada di mobil. Karena berkat si Tomtom, kamu tidak akan “nyasab” ke tempat yang akan kamu tuju. TomTom bisa menunjukkan arah ke tempat apapun, tinggal masukan saja alamat lengkapnya, TomTom dengan senang hati akan menuntunmu ^^.

Sampai di Langenfeld (Piano Building), saya takjub dengan banyaknya warga Turki. Tipikal wajahnya sangat khas.  Hidung mancung, mata lebar dan sedikit sipit, tubuh tinggi, lelaki berjanggut (mostly), tampan (ehem) dan teteh-teteh cantik.

Saat Hochzeit berlangsung, saya banyak merhatiin   acaranya kaya apa, of course yaa selain merhatiin aa-aa Turki yang lumayan ganteng itu :d. Pengamatan saya juga dibantu sama  penjelasan yang lugas banget dari Tante Tulay yang cantik tiada tara.

Anne Anne mit Tante Tulay
Anne Anne mit Tante Tulay

Tapi pliss, ini cuma pengamatan sekilas aja looh, saya baru sekali juga dateng ke acara kaya beginian. Jadi saya ga bisa menggeneralisir pernikahan tradisional mereka kaya apa. Tapi memang mostly secara umum, Turkish Hochzeit ga jauh beda dengan nikahan di Indonesia. Musik, gemerlap, makanan. Tapi memang ada beberapa point yang bikin beda.

1. Tanda tangan di meja resepsionis
Kalo di Indonesia, pas kita dateng kita langsung ngantri ngisi buku tamu dan setelah tulis nama-alamat seenaknya, langsung dikasih cinderamata. Kalo cinderamatanya bagus, kadang suka nyuruh anak – adek – atau diri sendiri buat balik nulis nama di buku tamu biar dapet cindemata untuk kedua kalinya. Siapa yang suka begini? Ngaku! :d
Kalo di Turkish Hochzeit, pas kita dateng tangan kita langsung disiram sedikit parfum (kolonya) dari botol. Tujuannya itu selain buat ngucapin “Herzlich Willkommen!” juga buat nyegerin muka atau badan kita.
Nah, setelah kamu dicipratin parfum itu, kerabat dari mempelai pria bakal nunggu buat salaman sama kamu.

P1230620
– dekorasi ruangan hochzeit yang aduhai –

2. Dekorasi ruangan

Ketika masuk ke ruangan, kesan pertama yang saya dapet adalah “uwoooow!”.  Menurut saya, acara mereka seperti acara konser musik. Yang memonjol dari ruangan itu bukan singgasana kedua mempelai seperti yang ada di Indonesia, tapi lebar panggung yang lebarnya  hampir setengah lebar gedung! Weeew! Tak ada rangkaian bunga, tapi lighting nya itu looh.. Super duper seperti konser Band Ungu! Dan untuk setiap 10 kursi undangan, disediakan satu meja.

3. Makanan

collage
Entah dengan Hochzeit yang lain, tapi di Hochzeit yang saya datengin itu ga ada prasmanan dengan aneka makanan sedap berjejer rapi, seperti di warung ikan asin. Makanan dihidangkan oleh para pramusaji ke meja masing-masing secara berurutan. Mulai dari appetizer (roti sobek – sebut saja begitu – dan berbagai macam saus), main course yang dilanjutkan dessert. Jadi para tamu undangan ga ngantri panjang untuk ambil makan, waktu penyajian makanan pun sudah diatur, disesuaikan dengan urutan acara Hochzeit – nya.

P1230640
Alat musik instrumen khas dari Turki

4. Step by Step
Oke, kalo di Indonesia penganten yang nungguin tamu. Saat sang penganten udah duduk, kalo liat ada tamu yang dateng pasti sang penganten langsung berdiri dan pasang kuda-kuda salaman. Tidak begitu dengan Turkish Hochzeit. Jadi, sang penganten bakal dateng ke gedung setelah dipastikan mayoritas para undangan telah hadir, begitu kata Tante Tulay.
Sambil nunggu kedua mempelai masuk ke dalam gedung, para tamu undangan disuguhi appetizer dan tarian khas Turki, Halay.
Mempelai pria akan masuk pertama ke dalam gedung yang diikuti oleh mempelai wanita dan diiringi oleh para pasukan pengiring musik. Alat musik yang digunakan di sini adalah alat musik khas Turki, davul dan zurna.
Setelah melewati tahap “penyerahan sang mempelai wanita dari ayah ke mempelai pria”, Halay kembali dilanjutkan. Kali ini ritmenya lebih bervariasi dan durasi tariannya lebih lama.

Halay adalah “folkloretanz” atau tarian khas dari Turki yang biasanya ada di acara-acara besar, contohnya acara pernikahan. Halay selalu diiringi oleh alat musik tradisional, namun pada praktiknya sentuhan alat musik modern mulai diadaptasikan. Pada awalnya, Halay hanya dimainkan oleh lelaki namun lambat laun para wanita pun turut serta meramaikan tarian Halay. Halay dilakukan oleh beberapa orang yang tergabung dalam dua buah lapisan lingkaran atau sebuah garis memanjang. Dalam praktiknya, saat musik pengiring dimainkan, setiap peserta harus saling melingkarkan jari kelingkingnya ke orang yang berada di sebelahnya, dan ritme gerakan mengikuti ritme musik yang dimainkan. Halay adalah gerakan kombinasi terpadu antara gerakan tangan dan kaki. Gerakan dari tarian Halay sepertinya sudah dipatenkan sedjak dahoeloe kala, terbukti dengan setiap orang yang ikut dalam tarian ini seperti sudah hapal setiap gerakannya, saat kaki melangkah ke depan, belakang, samping kanan – kiri dan seterusnya.  Normally, Halay akan berlangsung selama kurang lebih 30 menit untuk setiap satu putaran musik.

Saat Halay berlangsung itulah, saat main course disajikan oleh para pramusaji ke setiap meja. Jangan bayangkan 5-7 macam makanan yang pramusaji sajikan. Hanya 3 macam: salad, nasi dan ayam asam manis. Halay masih berlangsung saat makanan saya telah habis, jadi saya kembali menikmati tarian Halay. Semakin lama, tamu yang bergabung untuk menari Halay semakin banyak, ritmenya pun semakin cepat. Saat satu lagu selesai, saya pikir Halay telah usai, tapi ternyata lagu lanjutan kembali diputar -.-“.

Sebagai dessert disajikan Baklava. Baklava adalah salah satu makanan khas Turki yang terdiri dari lapisan-lapisan tipis (seperti kulit banana cheese) dan di dalamnya diisikan wallnut. Rasanya sangat manis dan sedikit berminyak. Baklava terkenal dengan tingkat kesulitan yang lumayan tinggi. Karena butuh ketelatenan dan kesabaran ekstra dalam membuat lapisan kulitnya,  Baklava seringnya hanya ada di acara-acara besar seperti acara pernikahan atau acara undangan lainnya.  Tapi ketika kamu datang ke Jerman, Baklava akan mudah ditemui di restauran-restauran Turki, dan restauran Turki sangat mudah kamu temukan di sini.

Di Indonesia, ketika kamu datang ke acara undangan, kamu pasti langsung dateng ke pelaminan, salaman, nyecep, makan, salaman lagi, poto, pulang. Nah, kalo di Turkish Hochzeit, pemberian hadiah atau dalam hal ini adalah “nyecep” adalah menjadi acara puncak. Jadi, setelah acara makan dan Halay selesai, para tamu undangan akan rela berdiri antri untuk memberi hadiah kepada kedua mempelai.
Yang menonjol dari step ini adalah, kalo kamu “nyecep” perhiasan (kalung – gelang) kamu harus pakein perhiasan itu langsung ke si mempelai wanita. Kalo kamu ngasih emas batangan, kamu harus tempelin di selendang merah yang udah dikalungin di leher si mempelai wanita. Kalo kamu ngasih uang, kamu bisa kasihin langsung ke mempelai pria atau bisa kamu masukin ke “box nyecep” yang ada di sebelah mempelai pria. Entah apa jadinya jika kamu nyecep mobil, apakah harus juga dimasukkan ke dalam gedung? :-
Satu hal lagi yang bikin “woow”, saat kedua mempelai  menerima “cecepan” itu, mereka ditemani si Mr. Kepo yang akan selalu ingin tau apa yang kamu berikan untuk si kedua mempelai. Karena saat kamu akan memberi “cecepan”, kamu akan ditanya “namanya siapa?”, “dari mana?”, “ngasih apa?”. Pasti orang cuek yang bakalan ngasih “cecepan” seadanya, soalnya si Mr. Kepo akan mengumumkan apa yang kamu kasih lewat pengeras suara.

Well, itu sedikit ulasan dari saya. Selayaknya di Indonesia, Turki pun punya perbedaan di setiap acara pernikahannya. Tapi sejauh ini menurut informasi yang saya dapat, secara umum Turkish Hochzeit memang seperti itu; Halay, zurna, davul, kolonya, baklava. Apapun itu, semoga menjadi keluarga yang sakinah – mawadah – warohmah. Insya allah.

*Duisburg, 17 Februari 2013.

24 thoughts on “Turkish Hochzeit (Pernikahan Ala Turki)

  1. kl bahasa turkinya: dugun gunu, kalau halay cuma untuk orang2 anatolia tengah, ga banyak yang make tarian halay, kalau orang dari daerah blacksea atau karadeniz mereka makenya tari horon, lebih atraktif, untuk pemberian emas atau mahar masih tergantung kulturnya juga, biasanya pemberian hadiah emas2 gini pas nisanlı alias tunangan ada jg pas hajatan. ga semua jg nyediain prasmanan:) ini tergantung tuan rumah, umumnya jg cm kue2 kering aja, ada lagi model prasmanan keluarga pengantin masing2, jd sebelum dihajatin di gedung, pihak keluarga pria terutama ,ngadain prasmanan dirumah, mereka tetap sewa katering,jd ada yg layanin juga,tamunya ga campur baur, pria dan wanita ga bareng*ini jenis adat yg msh nerapin tradisi islaminya* kl di turkinya macem2 tergantung dari daerah mana dia tinggal, bisa beda2:) mungkn karena di perantauan kali ya di jerman, jadi di gabung semua^-^ salam

  2. halo mba rahmabalci!
    salam kenal.. hehe..
    waah, info bagus tuuh.. yang saya tulis di sini pure pengalaman saya, dr hasil liat sana-sini selama acara dan bantuan informasi dr seorang kawan.. hehe
    tp yg saya tulis ttg emas di sini, bkn sebagai mahar.. sebagai hadiah dr para tamu undangan buat pengantin.. ^^
    di sini semua gabung, menurut info yg saya dapet juga, di jerman ga lazim pisah2 an wanita dan pria,
    iya mungkin karena diperantauan, jadi mau ga mau kultur eropa nya udah mulai masuk..
    yg menarik di sini adalah, mostly Turkish Hochzeit yg d Jerman umumnya didatengin sm orang2 Turki lagi.. orang jerman mah bs diitung pk sebelah tangan.. antara 5-10 orang an.. soalnya biasanya hochzheit bs dipake sbg ajang silaturahmi untuk ketemu dg “sesama turki” yang dikesehariannya jarang ketemu.. hehe

    makasih looh udah nyempetin baca dan komen.. hihi

  3. Keren tuh panggung buat pelaminannya…kayaknya menonton acara pernikahan memang jadi salah satu cara untuk mempelajari budaya setempat ya🙂

    1. hallo mba yusmei!
      hihi.. dateng ke nikahan emg bener bs jadi salah satu alat untuk belajar budaya setempat..
      tp kalo di sini, mw belajar budaya gampang..
      museum berserakan, kebanyakan tiap gedung punya sisi historis nya..
      di foto ini sebenerny saya ga moto panggung buat pelaminan loh..hehe
      panggung itu buat pengisi acara nya aja, “singgasana” pelaminannya mungkin cuma 1/5 dari total lebar panggung pengisi acara.. jadi emang kecil banget..
      aneh ya? saya juga pangling, baru kali ini liat panggung pengisi acara lbh gede drpd pelaminan nya.. hihi
      btw, makasih udah baca dan komen yah mbaa.. ^^
      salam kenal!^^

  4. ach soo.. turki punya budaya yang sedikit sama dengan indonesia..
    beberapa istilah arab yg dikenal di turki (terutama dalam hal ibadah muslim) sama juga dg di Indonesia.. hehe
    saya juga ini bukan d turki koo..hehe..

    pasti ada jalannya mba, tunggu saja! ^^
    jgn lupa satuin niat, usaha dan doa.. hehe

  5. salam kenal teteh….
    tulisan nya ngebantu banget….
    aku makin banyak info mengenai adat mereka disana…
    dan buat teteh Tulay yang cantik nya bikin pengen operasi idung…hehehehe….
    cuantiiikk bangeett yaahh…
    ditunggu info mengenai turki selanjut nya….

    1. hallo neng eka!
      salam kenal jugaaa.. ^^
      emg lagi nyari info apa ttg Turki? insya allah bisa bantu.. saya di sini tinggal dg keluarga Turki soalnyah.. hehe..
      jadi tiap hari ada aja info yg didapat ttg Turki, baik itu ttg makanan, kehidupan sehari2, tempat2 d turki, sampe ke budaya dan kehidupan beragama..^^
      Tante Tulay emg cantik banget, tipe wanita Turki yang sangat natural..^^
      insya allah nanti post lagi ttg tulisan ttg Turki..
      danke yaaaak udah baca dan komen.. ^^

  6. tantenya cantik, anne anne.. saya pernah dengernya anne tu ibu tapi kalo nenek annane, ternyata nenek itu anne anne… info yang menarik😀
    panggungnya subhanallah e😀
    gambar makanan paling ujung, bentuknya kayak martabak yang udah dipotong-potong hehhee

    1. hallo mba nurul!
      Anne anne, tp klo saya mangillnya annene, hehe.
      itu yg kaya martabak, namanya Baklava.. makanan khas turki, biasanya jadi makanan penutup.. cara bikinnya gampang banget koo.. hehe

  7. Pacar saya orang turkey, semoga sampai ke pelaminan dan akan menggunakan pernikahan ala turkey آمِيـنَ 🙂 hehehe…

    1. hallo, iya alhamdulillah.. hehe
      mau ikut jadi au pair jg? udah apply?
      semoga dimudahkan yah neng, semoga dapet keluarga yg baik.. hehe
      amiin..
      sami2, salam kenal juga..

      makasih udah baca dan komen.. ^^

  8. hallo teh, salam kenal aku Olen di bekasi…

    pengen jadi AuPair juga tapi nanti kalau sudah lulus kuliah. Teh, aku sering denger kabar kurang sedap tentang keluarga keturunan Turki.. banyak yang bilang gini “Len, cari yang asli turunan Jerman. jangan Turki” jadi galau sebenernya ada apa sih… Kalo baca tulisan-tulisan teteh kaya yang enakeun ya tehh Gastfam nya baik… hehehe. pengen banget banyak tanya2 sama Teteh yang udah duluan menginjakkan kaki di Jerman…

    1. hallo olen, salam kenal juga dari sya.. hehe
      waah, ayo lanjutkan mimpinya, jangan berhenti di tengah!
      saya belum lulus kuliah juga koo, kebetulan kemarin sekalian penelitian untuk skripsi saya di sana, sekalian masih on prpogress, doakan lancar.. amiin..

      oyah, kalo masalah orang2 turki baik atau engga, itu relatif.. hehe
      pasti semuanya ada kelebihan dan kekurangannya, yang penting di manapun kamu berada nanti, jadikanlah yang terbaik dan berikan yang terbaik.. masalah rezeki mah udah diatur sama Allah, ga usah takut.. hehe

      boleh mangga nanya2 kalau belum ada yang jelas,
      silahkan kirim email ke nengnury@yahoo.com

      terima kasih udah baca dan komen.. ^^

  9. Tulisan yang menarik, kebetulan saya pemerhati antropologi dan sejarah luar negeri khususnya middle eastern dan sekitarnya hehe. ada hal yang membuat saya sedikit menaruh perhatian pada ibu-ibu berjilbab di foto itu, dengan karakter wajahnya yang agak “asia” ditambah mata sipitnya, saya menduga sekali sebagaimana yang saya pelajari sejauh ini, apakah jangan-jangan ibu tersebut masih keturunan “Turkic asli” ya?.

    karena FYI nih apa anda sdh tahu bahwa bahasa Turkiye sebenernya masih rumpun bahasa altaic yang masih sekerabat dengan bangsa mongol secara linguistik, aslinya yg namanya “Turkic people” tuh etnik ras mongoloid yang moyangnya lahir di pegunungan altai di barat mongolia, sepupuannya kaum mongol, lalu kaum Turk ini berhubung mereka kaum nomaden dan invaders, berekspansilah mereka dari tempat asalnya (siberia timur dan mongolia) ke Eurasia hingga eropa, di Eurasia mereka kawin-mawin serta asimilasi dengan suku-suku Iran kuno (ras kaukasoid) yang akhirnya melahirkan etnis Uzbek, Turkmen, Kazakh, Kyrgyz, Bashkir, Tatar, dsb begitu juga etnis Uyghur di northwestern China, anda bisa lihat banyak diantara mereka yang fisiknya terlihat blasteran asia+bule+timteng sbg bukti, khususnya orang-orang Turkic asia tengah atau eurasia (Uzbekistan, Bashkortostan, Kazakhstan, Uyghur Xinjiang, dsb). namun demikian, “Genetic marker” penduduk kuno sebelum kedatangan kaum mongoloid turkic di eurasia ini masih tersisa sebagian diantara mereka sehingga wajahnya pun lebih kaukasoid. Hanya mayoritas orang-orang kazakhstan dan kyrgyzstan yang muka-mukanya itu sebetulnya lebih mendekati orisinalitas moyangnya yg notabene turkic mongoloid, anda bisa perhatikan, karena mereka mungkin dahulu kala lebih “less-mixed” dibanding orang Turkic yang Uzbek, Turkmen, Uyghur, dsb.

    nah namun khusus orang-orang Turki sendiri, walaupun mereka penutur bahasa Turkic dari bangsa asal western mongolia ini, secara genetik mayoritas rakyat Turkey BUKAN keturunan kaum Turk asli, mereka hanya korban “Turkifikasi” secara bahasa dan cuman 10-13% dari mereka yang “mixed blood” keturunan Turkic mongoloid asli, mereka aslinya masih keturunan suku-suku Anatolia Indo-Eropa kuno di tanah Turki. karena dahulu kala kesultanan Seljuk yang notabene kaum Turkic ini kan cakupannya hingga Turkey, sehingga mereka juga “mengimpose” bahasa mereka, bahasa Oghuz Turkic, salah satu cabang dialek bahasa Turk yg kelompokannya dengan Turkmenistan dan Azerbaijan.

    nah! apakah jangan-jangan anne-anne tsb MASIH keturunan turkic mongoloid asli sbg sisa-sisa peninggalan invasi kaum Seljuk Turks dahulu ya?

    1. WOWW!!
      saya ga nyangka tulisan saya akan dikunjungi oleh ahli di bidangnya. *speechless*

      kalau mau mas/mba tertarik mengenal mereka lebih jauh dalam rangka studi, in shaa allah saya bisa menyambungkan.. silahkan kirim e-mail ke nengnury@yahoo.com

      terima kasih sudah mampir, baca dan komen,

      sukses untuk penelitiannya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s