Nury's Foot Step

cokelatkaramel

 

This slideshow requires JavaScript.

Saya adalah seorang  mantan pengedar.
Sejak saya SMA kelas 11, saya sudah jadi pengedar cokelat. Bukan cokelat buatan saya, tapi cokelat buatan temen kuliahnya kaka saya. Alasan mengedarkan cokelat saat itu adalah gara-gara saya ngerusakin handycam nya bibi saya dan biaya servisnya ga tanggung-tanggung, 1.7juta.
Maka setiap hari, saat jam sekolah belum dimulai saya “menggelar” lapak dadakan di dalam kelas, atau sebelumnya berkeliling lapangan basket di sekolah saya, menawarkan barang jualan saya ke teman-teman yang sedang duduk sambil berdiskusi atau sekedar nongkrong ria. Saat bel istirahat mulai berdentang, setelah berkeliling berjualan di dalam kelas, saya melanjutkan berkeliling di area sekolah. Masuk ke kelas yang satu dan yang lainnya, menghampiri yang sedang bergosip, masuk ke ruang guru, masuk ke kantin, atau iseng menghampiri para aktivis masjid yang sedang mengaji di teras mesjid At-taqwa.
Saat jam istirahat ke dua berbunyi, kembali saya membawa barang dagangan saya ke mesjid, berharap ada yang membeli cokelat ini saat solat duhur telah selesai. Atau menawarkan katalog cokelat ke teman-teman, adik dan kakak kelas sambil bilang,
“ayo dong dibeli.. Buat pacarnya ato adeknya ato orangtua di rumah.. cocok buat kado ato cuma buat dimakan sendiri, harga terjangkau rasa boleh diadu!”.
Alhamdulillah, setelah 7 bulan rutin berjualan, saya bisa mengumpulkan uang satu juta rupiah. Tidak mudah, karena setiap harinya saya bisa mengumpulkan paling banyak 12ribu, kalau sedang rame pembeli bisa lah 15-17ribu saya dapat.

Saat kuliah tingkat 2, iseng-iseng saya jualan cokelat bikinan sendiri. Saya kasih brand “Cokelatkaramel”. Alasannya biar selalu manis dan gampang diingat. Simpel. Metode penjualannya saya rubah, tidak lagi berkeliling membawa dagangan tapi berkeliling membawa katalog dengan variasi bentuk dan harga yang berbeda. Respon konsumen sangat bagus, malah saya sempet kewalahan menghadapi orderan konsumen. Rupiah demi rupiah pun bisa saya dapat dan saya gunakan untuk berbagai macam kebutuhan.
Valentine, meskipun saya tidak merayakan tapi sepertinya saya menjadi salah satu simpatisan. Karena di momen ini, orderan cokelat sejak awal Februari sampai tanggal 14 mengalami peningkatan omset 5x lipat dari biasanya. Jadi, jika hari-hari biasa keuntungan saya perbulan hanya 200.000 – 400.000, pada bulan Februari selalu menjadi di atas 2juta perbulannya.
Daerah “jajahan” terjauh dari cokelatkaramel adalah Lampung, pernah juga saya kirim ke Jakarta dan Bandung menjadi mayoritas daerah konsumen. Jika sedang ada atau apalagi banyak pemesan, saya sering melupakan tidur malam. Jadinya seperti kalong saja (kelelawar-red), tidur di siang hari.
Membuat cokelat memang mudah, hanya banyak dibutuhkan keterampilan dan kreatifitas yang tinggi untuk membuat olahan cokelat menjadi lebih menarik. Jangankan memakannya, membuka bungkusnya pun orang-orang akan sedikit enggan. Ini adalah beberapa hasil kreasi saya selama tahun 2009-2011. Enjoy!^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s