Daily Activities

Tempat Paling Meneduhkan di Dunia

Belum genap empat bulan menempati Sakarya, belum banyak tempat yang saya jelajahi. Maka jika ditanya tempat paling berkesan selama di Turki, simply akan saya jawab: mesjid-mesjidnya. Mengapa mesjid?

Karena kemanapun saya pergi, mesjid adalah tempat paling meneduhkan di dunia.

Mesjid adalah tempat yang selalu harus saya datangi. Mesjid adalah labuhan ketika waktu shalat tiba atau sekedar menenangkan penatnya hati dan hari.

Di Turki, mesjid punya kedudukan tersendiri. Menurut Kementrian Keagamaan (Diyanet İşleri Başkanlığı) Turki merupakan rumah bagi 84.684 bangunan mesjid yang tersebar di seluruh wilayah di Turki. Umumnya mesjid-mesjid tersebut banyak tersebar di kota-kota besar. Kekhasan mesjid-mesjid Turki terlihat dari desain interiornya yang memadukan lukisan tradisional  dan kreasi keramik ala iznik. Sementara eksterior mesjid-mesjid di Turki biasanya ditandai dengan minaret (menara mesjid) dan abdest yeri (tempat wudhu). Itulah yang menyebabkan sekilas mesjid-mesjid di Turki terlihat sama.

Di Sakarya sendiri, di tahun 2014 Diyanet merilis terdapat 1.278 mesjid berdiri di provinsi ini. Sebuah jumlah yang cukup besar jika melihat luas Sakarya yang merupakan seperlimanya luas Provinsi Jawa Barat. Atas izin Allah, mesjid di Sakarya mudah sekali saya temukan. Alhamdulillah.

Dari beberapa mesjid yang pernah saya datangi di Sakarya, favorit saya adalah Orhan Camii. Terletak di pusat kota Adapazarı, berdiri megah dan menjadi tempat para umat muslim untuk menunaikan kewajibannya sebagai muslim.  Orhan Camii tidak memiliki kubah seperti masjid Turki kebanyakan dan hanya memiliki satu minaret. Di bagian depan bangunan mesjid, bisa kita temukan abdest yeri  untuk laki-laki, sedangkan abdest yeri untuk wanita bisa ditemukan di bagian belakang mesjid. Taman hijau yang berada di sekitar kompleks mesjid ini menambah keindahan eksteriornya.

This slideshow requires JavaScript.

Seperti mayoritas mesjid di Turki, tempat shalat jamaah wanita dan laki-laki dipisah, begitu pula dengan jalan masuk ke mesjid. Interior lantainya terbuat dari lapisan kayu yang juga dibuat sebagai atap mesjid. Hamparan karpet indah nan tebal serta hiasan lampu khas Turki menjadi salah satu pemandangan  ketika memasuki mesjid ini.

Setiap saya memasuki Orhan Cami, saya merasakan kedamaian dan rasa ingin berlama-lama di dalamnya. Keberadaan mesjid di Sakarya menjadi hal yang sangat menakjubkan buat saya. Selain sebagai simbol kemegahan bangunan suci umat muslim juga sebagai pengingat bagi masyarakat muslim khususnya di tengah kesekuleran yang masih mengakar di kehidupan masyarakat Turki. (flpturki.com)


Referensi:

  1. http://www.ensonhaber.com
  2. http://www.kulturportali.gov.tr
  3. http://www.google.com.tr (sumber gambar)

Daily Activities

Kisah Seorang Reyna, Sang Koki dan Sebungkus Roti (Based on True Story)

“Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling bermanfaat untuk manusia. Dan amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah kegembiraan yang engkau masukan ke hati seorang mukmin, atau engkau hilangkan salah satu kesusahannya, atau engkau membayarkan hutangnya, atau engkau hilangkan kelaparannya. ………
(HR. Ath Thabrani 6/139, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 2/575).


-Seorang Reyna, pukul 11.35 TRT (1)-
Bergegas ia keluar dari asrama mahasiswa menuju yemekhane (2) kampus yang berjarak sekitar dua puluh lima menit dengan berjalan kaki. Dari aplikasi SABIS (3) Reyna tahu menu yang akan disajikan di yemekhane  hari ini adalah Sehriyeli Pilav (4) dan Patatesli Ciğer Kavurma (5).
Nampaknya menu yang biasa saja“, pikirnya.
Tapi rasa lapar sejak pagi karena terlewat sarapan di asrama, mendorongnya untuk segera berangkat ke sana.

pilaf
Sehriyeli Pilav (Source: Pinterest.com)

Antrian panjang menjadi sambutan ketika Reyna sampai di sana. Jadwal sesiang ini memang waktu yang pas untuk datang ke yemekhane, selain sekedar bertemu teman dan kolega selepas kelas usai, agenda terpenting adalah tentu saja untuk makan siang. Apalagi untuk mahasiswa macam Reyna yang merupakan scholarship holder. Harus cerdas mengelola pengeluaran jika ingin pulang ke Bandung di liburan musim panas nanti. Dibandingkan dengan harus mengeluarkan uang lebih untuk makan siang , maka fasilitas lunch gratis di yemekhane di kampusnya sangat sayang untuk dilewatkan, Reyna kembali membatin. Maka ia bersama seorang teman segera mengantri dan mengambil bagian.

Setelah mendapat tempat duduk, maka Reyna mulai mencicipi makanan yang telah ada di hadapannya. Suapan pertama. Suapan kedua, Reyna mulai berpikir rasa dari Patatesli Ciğer Kavurma yang ia ambil. Suapan ketiga, nampaknya ia mulai kehilangan selera makan. Setelah suapan keempat, Reyna memutuskan tidak melanjutkan makanannya. 

“Kenapa berhenti makan?”, tanya teman Reyna yang berasal dari Palembang. Nampaknya ia turut memperhatikan.
“Tak berselera. Mual rasanya”, jawab Reyna asal.
“Yakin?”, tanyanya tak percaya.
“Terus makanannya nanti dibuang?”, lanjutnya.
“Mau bagaimana lagi?”, Reyna balik bertanya.
“Hmm.. Di Syria batu saja dimakan”. Menohok, temannya mengingatkan Reyna.

Reyna tak peduli. Jika sudah tak berselera, mau dibagaimanakan lagi?
JDalam dua puluh menit adwal kelas Reyna akan dimulai. Ia harus segera menuju kelas TÖMER (6) -nya. Jika telat masuk ke kelas, Hoca (7) akan melarang Reyna untuk masuk kelas sesi pertama. 


-Sang Koki: yemekhane kampus, pukul 18.15 TRT-
Jam dinding di yemekhane menunjukkan pukul 18.15 TRT. Lima belas menit lagi jadwal makan mahasiswa akan usai. Artinya tugasnya sebagai koki sebentar lagi selesai dan tak lama ia akan pulang dan bertemu dengan anak dan istrinya yang tengah setia menanti di apartman (8) sederhananya di pinggir kota Karaman-Sakarya. 

Pagi tadi ia telah berjanji kepada anaknya, hari ini ia akan pulang cepat dan memberikan hadiah spesial untuknya. Di sela-sela lamunannya, Sang Koki berencana, ia akan menceritakan kepada anak dan istrinya bahwa hari ini ia memasak Sehriyeli Pilav dan Patatesli Ciğer Kavurma. Menu yang dimasaknya dengan penuh cinta, karena dua menu tersebut adalah menu yang menjadi favorit keluarga kecilnya. Kapanpun Sang Koki memasak menu itu di rumah, maka anaknya akan memakan dengan sangat lahap dengan wajah penuh bahagia. Apalagi yang membuat hati berbunga saat melihat keluarga tercintanya bahagia?
Dalam hati kecilnya, Sang Koki ingin menularkan juga kebahagian sang anak ke setiap mahasiswa yang memakan masakannya di yemekhane hari ini. Semoga, harapnya.


-Seorang Reyna dan Sang Koki: Otobüs 35, pukul 18.45 TRT –
Kelas sudah usai sejak pukul 17.20 TRT. Khawatir terlewat waktu shalat maghrib, selepas kelas usai Reyna langsung menuju cami (9) yang terletak persis di belakang kelasnya. Selepas melaksanakan ibadah shalat maghrib, ia memutuskan pulang ke asrama. 

Setelah sampai di son durak (10), Reyna langsung naik ke dalam otobüs (11) 35 yang akan segera melaju. Reyna duduk di jok penumpang bagian belakang. Saat itu bus belum terlalu penuh, tetapi biasanya jam-jam tersebut kendaraan dari arah kampus akan penuh sesak dengan penumpang.

Di halte yemekhane, penumpang mulai memenuhi otobüs. Akibatnya sebagian penumpang tak mendapatkan tempat duduk. Saat itulah Reyna melihat seorang lelaki paruh baya nan  bertubuh gempal, dialah Sang Koki. Sambil berdiri, Reyna mempersilahkan Sang Koki  duduk.

Buyurun, Amca (12)”, Reyna mempersilahkan.
“Terima kasih banyak. Terima kasih banyak. Kamu baik sekali”, Sang Koki berterima kasih. Tulus Reyna rasakan.
Dari gesture tubuh dan raut mukanya, Reyna tahu jika Sang Koki lelah.
“Kamu datang dari mana?”, Sang Koki membuka percakapan. Dari tipe wajah Reyna yang sangat Asia, Sang Koki tahu jika Reyna seorang mahasiswa asing.
“Saya dari Indonesia, Amca“.
“Wah.. Berapa jauh dari Sakarya?”.
“Sekitar dua belas jam dengan pesawat, Amca“.
“Ma syaa Allah! Kamu tinggal di mana sekarang? Dengan siapa?”, Sang Koki tak berhenti bertanya.
“Saya tinggal di asrama, Amca. Tak jauh dari kampus”. “Amca bekerja di kampus?”, Reyna lembut bertanya. Penasaran.
“Saya bekerja di yemekhane, saya koki di sana”.

Jleb. Reyna teringat makanan yang ia tinggalkan siang tadi. Sang Koki terlihat lelah karena harus memasak untuk ribuan mahasiswa di kampus ini sejak pagi hinga malam hari. Reyna ciut. Ia merasa bersalah.

“Ini, hadiah dari saya karena kamu sudah baik memberi saya tempat duduk”, sambil menyerahkan bungkusan pelastik. Memecah lamunan Reyna.
Reyna kaget. “Apa ini, Amca?”, sambil berusaha membuka bungkusan.
“Jangan dibuka di sini. Dibuka di asrama saja. Awalnya saya hendak memberikan ini untuk anak saya, ini kesukaannya. Tapi dia pasti senang jika ini diberikan kepada seseorang yang juga telah berbuat baik kepada baba (13)-nya. Tenang, besok akan saya siapkan lagi hadiah yang lain untuk anak saya”, hangat ucap Sang Koki sambil tersenyum.
Tak tega menolak, ragu Reyna segera menerima bungkusan tersebut. 
“Terima kasih banyak, Amca! Allah bereket versin (14)! Semoga Allah membalas kebaikan Amca!”, tulus Reyna berkata. Ada haru menyelimuti.
Allah razi olsun! Terima kasih!”.

Ingin Reyna terus berbincang dengan Sang Koki yang nampaknya sangat menyayangi keluarganya. Tetapi asrama Reyna sudah di depan mata. Sebelum Reyna turun, Sang Koki berkata:
“Nanti kapan-kapan kita bertemu lagi di yemehkane ya! Jangan ragu sapa saya jika bertemu!”
“In syaa allah, Amca!”.


-Seorang Reyna dan Sebungkus Roti: Rahime Sultan Kız Öğrenci Yurdu, pukul 19.15 TRT-
Reyna membuka bungkusan yang diberikan Sang Koki. Betapa ia terkejut melihat bungkusan yang diberikan padanya! Dua buah roti tumpuk yang diisi dengan Patatesli Ciğer Kavurma! Makanan kesukaan anak Sang Koki yang dia abaikan di siang ini, makanan yang Sang Koki buat dengan sepenuh hati.

Sang Koki mampu berbagi di tengah kesempitan. Sang Koki bekerja keras demi keluarganya. Berlelah demi kewajibannya. Namun seorang Reyna malah menghambur-hamburkan dan tak bersyukur atas segala nikmat yang telah ia dapatkan, meski lewat sepiring Patatesli Ciğer Kavurma dan Sehriyeli Pilav. 
Reyna menangis. Betapa ia sangat tak bersyukur dan mengabaikan banyak hal di hari ini. Allah ingin menegur Reyna dengan cara yang sangat sederhana. 

Terima kasih, Amca.
Lewat sebungkus roti, Amca telah mengajarkan Reyna pelajaran dan pengalaman yang sangat berharga. Terima kasih, Amca telah menjadi jalan karunia Allah untuk mengingatkan Reyna yang jarang bersyukur dan seringkali lupa. (flpturki.com)


Catatan Kaki:

  1. TRT: Turkey Time.
  2. Yemekhane: ruang makan – biasanya dimiliki kampus-kampus di Turki.
  3. SABIS: Sakarya Üniversitesi Bilgi Sistemi – aplikasi yang memuat berbagai informasi seputar Universitas Sakarya.
  4. Sehriyeli Pilav: salah satu jenis sajian nasi putih di Turki.
  5. Patatesli Ciğer Kavurma:  masakan Turki yang terdiri dari tumisan potongan kentang dan hati sapi.
  6. TÖMER: Türk Dili Öğretimi Uygulama ve Araştırma Merkezi (Pusat Pengajaran dan Penelitian Bahasa Turki).
  7. Hoca: guru.
  8. Apartman:apartemen.
  9. Cami: mesjid besar.
  10. Son durak: pemberhentian terakhir.
  11. Otobüs: bus.
  12. “Buyurun, Amca”: “Silahkan, Paman”.
  13. Baba: ayah.
  14. Allah bereket versin: semoga Allah memberkahimu.
Daily Activities

Afiyet Olsun!

Jika menjelajahi tempat baru, mencicipi kuliner lokal adalah rukun sahnya sebuah perjalanan. Lewat mencicipi kuliner lokal, maka kita akan mengetahui budaya setempat. Karena umumnya budaya yang berlaku di sebuah daerah akan berpengaruh ke berbagai aspek kehidupan, salah satunya cara memasak dan jenis masakan yang dibuat.

Seperti Indonesia yang terkenal dengan sajian kuliner tradisional yang mencampurkan aneka bumbu dan rempah ke dalam proses memasaknya, maka bolehlah kita menyebut Turki mashyur dengan aneka tatlı (dessert khas Turki) dan kuliner olahan daging-dagingannya. Meski manisnya dessert khas Turki akan sedikit berbeda dengan “level kemanisan” masyarakat Indonesia kebanyakan dan kuliner dengan olahan dagingnya masih kalah variatif dibandingkan kuliner asli Indonesia.

Karena berada di garis geografis yang berbatasan dengan negara Balkan dan Asia Barat, memungkinkan adanya pengaruh unsur-unsur bahan makanan dan cara memasak. Satu hal yang menarik dari kuliner Turki, yogurt merupakan pelengkap dari mayoritas kuliner Turki. Jika di Indonesia yogurt disajikan sebagai bahan pembuat minuman, di Turki yogurt bisa diasosiasikan sebagai sambal di masakan Indonesia atau bahan pelengkap di setiap banyak kuliner khas Turki. Adapula ayran yang merupakan minuman favorit para Turk (orang Turki), bahan utamanya adalah yogurt ditambahkan air dan sedikit garam.

Dari sekian banyak kuliner khas Turki, tiga jenis makanan ini merupakan favorit saya dan bisa menjadi referensi sebagai salah satu “things you should try” jika suatu waktu berkunjung ke Turki.

  1. Baklava
    Saya langsung menyukai Baklava sejak pertama kali saya mencobanya.  Buat saya baklava adalah tatlı paling juara seantero Turki. Dua kata tentang Baklava adalah manis dan nutty.  Kacang yang digunakan juga beragam; kacang almond, pistachio (di Indonesia kacang ini sangat jarang ditemukan, kaya akan protein dan potasium), dan kacang kenari. Salah satu kekhasan dari Baklava adalah adonannya yang terdiri dari banyak lapisan.
baklava
Baklava (source: pinterest.com)

Baklava sangat pas jika disajikan bersama segelas çay, merupakan kombinasi yang pas sebagai teman duduk bersama. Di Sakarya, Baklava dengan sensasi manis paling juara bisa diperoleh dari Gazibey dengan harga 40 TL perkilogram.

  1. Kebab
    Merupakan “the most famous Turkish food” di dunia. Kebab sendiri adalah makanan yang bahan utamanya adalah daging-dagingan; daging sapi, daging kambing, daging domba dan daging ayam.
    Terdapat banyak jenis olahan kebab di negeri yang terkenal akan eksotisme Selat Bosphorus ini. Berbeda bahan pelengkapnya, maka berbeda pula jenisnya. Selain bahan pelengkap yang membedakan jenisnya, ternyata cara penyajian dan nama daerahpun akan turut mempengaruhi jenis kebab.
    Sebagai contoh, jika kebab disajikan dengan roti khas Turki maka dikenal dengan Döner Kebabı. Jika berasal dari kota Adana maka terkenal dengan Adana Kebabı. Jika disajikan dengan cara ditusuk menggunakan tusukan berbahan kayu (seperti sate di Indonesia) atau besi, maka disebut şiş kebabı, dan aneka jenis lainnya.
    Dari semua jenis kebab yang ada, favorit saya adalah Döner Kebabı. Bukan tanpa alasan saya memilih kebab pamungkas ini. Umumnya Döner jenis ini paling mudah ditemui di restoran-restoran cepat saji, harganya sangat bersahabat dengan para pelajar (Döner dengan daging ayam, biasanya dihargai 5 TL) dan tentu saja mengenyangkan (ini yang paling penting). Döner Kebabı adalah pertolongan pertama saat kelaparan melanda.
    Umumnya Döner Kebabı disajikan dengan salad, bawang-bawangan, aneka saus (mayonais dan atau saus tomat), pul biber (cabe merah bubuk), serta tak ketinggalan the most famous one: yogurt.
  2. Sutlaç
    Sutlac adalah tatlı Turki kedua yang saya sukai.

    sutlac
    Sutlaç (Source- pinterest.com)

    Dibuat dari bahan campuran utama nasi dan susu serta tambahan gula, menjadikan makanan ini sangat patut dinikmati setelah makan. Sebagian orang Indonesia yang menyebutnya puding nasi. Umumnya makanan ini disajikan dengan mangkuk tanah liat.

Nah, tertarik untuk mencoba? Jangan lupa dicicipi tiga makanan wajib di atas jika berkunjung ke Turki. Namun yang perlu diingat adalah, bukan apa yang kamu makan, tapi dengan siapa kamu menikmatinya. Afiyet Olsun! (flpturki.com)

Referensi:
http://www.turkish-cuisine.org/
http://www.thebaklavaguy.com/

 

 

 

Daily Activities

Rumah Matahari (Bagian ke-2)

Selalu ada ratusan alasan untuk merindukan rumah dan matahari pagi. Keduanya adalah kebahagiaan buat saya.

Buat saya?

Rumah buat saya bukan sekedar tempat pulang, tapi juga  melibatkan perasaan. Segala macam perasaan tetiba muncul saat mendengar kata “rumah”. Dan matahari pagi adalah awal kehidupan. Saat di mana kehidupan 24 jam akan dimulai dan penyemangat untuk melanjutkan rutinitas   hingga langit berubah gelap.

Apalagi di musim dingin seperti ini. Matahari sedang malas menyinari Sakarya dan daerah lainnya yang sedang mendapatkan cuaca super dingin. Sedangkan di Indonesia, matahari rasanya  tak bosan hadir menghangatkan. Saya jadi sangat menghargai semua kehangatan yang pernah saya rasakan di Indonesia. Tak perlu ditunggu pun, matahari dengan ikhlasnya datang dan pergi sesuai dengan peredarannya. Tak pernah bosan, tak pernah lelah. Sama seperti kasih sayang yang selalu saya dapatkan di rumah .

“Home is where the heart is”

Mendengarnya saja sudah membuat mata berkaca. Apalagi dibarengi dengan lagu kebangsaan  para pelancong yang berada jauh dari kampung halaman dan tetiba ingat pada keluarga.
“Another summer day has come and gone away in Paris and Rome, but i wanna go home..”
Klop. Lengan baju harus siap  jadi lap dadakan untuk air mata yang mungkin saja akan turun segera.

“Maybe surrounded by a million people, i still feel all alone.. I just wanna go home.. I miss you, you know?”

Bicara soal rindu, rasanya saya punya stok kerinduan yang melimpah ruah. Tak siang, tak malam, tak sedang berdiri atau duduk, bergerak atau diam, rindu saya pada rumah akan selalu ada dan menggebu. Apalagi jika saya ingat salah dan betapa badungnya saya pada Ami (ibu -red). Jika sedang ingat ami, kekuatan rindu saya pada rumah jadi berkali-kali lipat besarnya.

“Another aeroplane, another sunny place, i’m lucky i know.. But I wanna go home..
Another winter day has come and gone away in either Paris or Rome.. 
And I wanna go home, let me go home..”

p1260236
Malam di Paris

Roma memang belum sempat terjelajahi. Nanti di waktu selanjutnya saja, mungkin dengan keluarga, mungkin saja sendiri, mungkin juga dengan teman hidup yang sampai saat ini di suatu tempat tengah menunggu. Tapi langit Paris di medio musim gugur 2013 itu menjadi saksi, “saya berada di sini membawa banyak cerita, banyak doa, banyak kasih dari keluarga. Maka Allah, takdirkan kami berada di sini bersama nanti. Amiin.”

Saya hanya serang pelancong yang sangat rindu pada rumah. Karena separuh hati saya berada di sana, di rumah bercat hijau dengan pohon jambu besar itu. Saya tunggu kalian juga di sana. Di rumah kami yang selalu membuat rindu.

Karena sejauh apapun pergi, rumah adalah tempat saya akan pulang kembali.


(http://www.flpturki.com/)

*Siang di Uni Garden*

Daily Activities

Turki: Antara Harapan dan Kenyataan

Turki dengan segala pesonanya, mampu membuat saya terpikat. Akan kedermawanan masyarakatnya, akan kemegahan bangunan-bangunan kunonya, akan keindahan sunset di pantai-pantainya, akan kekhasan di setiap waktu sarapannya, akan sapaan khas di setiap waktunya, akan  kebiasaan masyarakatnya dalam meminum çay setiap hari yang kabarnya dapat menghabiskan lebih dari sepuluh gelas dalam sehari! Vay be!
Juga saya kagum dengan setiap doa yang terucap ketika melakukan sesuatu,

Allah razi olsun (semoga Allah meridhaimu)!”,
Allah kabul etsin (semoga Allah mengabulkan (doa) mu)!”,
Allah şifa versin (semoga Allah menyembuhkanmu)!”,
Allah kolaylık versin (semoga Allah memudahkanmu)!”,
Allah’a emanet ol (semoga Allah menjagamu)!”,
Ellerine sağlık!”.

Pengalaman tinggal bersama dengan keluarga “berdarah murni” Turki saat berada di Jerman cukup mengajarkan saya tentang kehidupan masyarakat Turki pada umumnya. Mereka merupakan keluarga berkewarganegaraan ganda Jerman dan Turki. Keluarga besar ibu angkat saya (Anne) berasal dari Izmir, sebuah kota dengan anugerah pancaran sinar matahari berlebih jika dibandingkan dengan kota lainnya di Turki. Keluarga besar Ali (ayah angkat saya) banyak mendiami kota Adana, kabarnya kebab termahsyur di Turki berasal dari daerah selatan Turki tersebut.


Karena pengalaman itu pulalah, angan saya tentang negeri ini tak jauh melayang.  


Namun pernah saya membayangkan masyarakat di Turki adalah masyarakat yang disiplin dalam segala hal. Letak geografis yang berada di antara dua benua memungkinkan nilai-nilai kebaikan dan kedisipilinan dari Benua Eropa akan juga didapat di Turki. Disipilin akan waktu, disiplin akan ketertiban di jalan raya, disipilin akan kebersihan.
Ketika berada di sini, saya harus menerima kenyataan bahwa mayoritas pengguna angkutan di Turki adalah “pembalap formula satu”. Di jalan raya akan dengan mudah ditemukan mobil yang melaju sangat kencang dan atau kendaraan yang hampir bertabrakan. Ketika berada di dalam otobüs, saya sering mengerem diri saya agar tidak maju menabrak jok di hadapan saya karena sang supir mengerem secara mendadak. Nampaknya kemampuan para pengendara angkutan di sini di atas rata-rata.

Ketika saya berada di Indonesia, saya banyak mendapatkan informasi tentang presiden yang menjadi kebanggaan masyarakat Turki, Recep Tayyıp Erdoğan. Atas kebijakan-kebijakannya yang out of the box, tentang kekuasannya yang dikabarkan sangat ditraktor, tentang kekuasaannya akan media Turki dan banyak informasi lainnya.
Tapi ketika saya berada di sini, saya menemukan bahwa ternyata sosoknya lebih daripada apa yang saya bayangkan sebelumnya. Kebijakannya untuk menerima para pengungsi dari Suriah, support di bidang pendidikan hingga memberikan satu tablet untuk setiap siswa di sebuah sekolah keislaman, bahkan sampai dengan “mengirim” salju agar anak-anak di daerah yang tidak mendapat salju dapat merasakan bagaimana asyiknya bermain salju. Betapa kebaikannya menginspirasi!

Satu lagi yang menarik dari sini, adalah kebiasaan berbuat baik masyarakatnya. Saya tidak membayangkan jika kebaikan dalam menjamu misafir adalah kebaikan berjamaah dari masyarakat Turki pada umumnya. Bayangan saya selanjutnya adalah kelak kebaikan ini akan menular ke bangsa yang lain. Minimal menular ke bangsa muslim lainnya. Kebaikan mereka akan menerima para pengungsi dari Syriah dan negara konflik lainnya adalah hal yang sangat patut diacungi jempol.  (http://www.flpturki.com/)

-Uni Garden, setelah menghabiskan hari bersama güzel-güzel Sakarya-

Daily Activities

Kebaikan Berjamaah

Because Turkey is home of hospitality, whatever religion you are from, whichever country you come from, whatever language you speak, you are Allah’s Guest (Anonim).


Salah satu hal yang saya syukuri sampai saat ini adalah kemanapun saya pergi, saya selalu dikelilingi oleh orang baik. Termasuk saat ini menjalani kehidupan sebagai seorang mahasiswa di Turki.

Bicara tentang kebaikan dan Turki, selain mashyur dengan kemegahan Blue Mosque dan Istanbul sebagai salah satu destinasi favorit dunia, Turki terkenal juga dengan kebaikan dan keramahannya pada tamu. Misafirperverlik mereka sebut.

Masyarakat Turki adalah masyarakat yang sangat ramah pada tamu atau misafir. Karena menurut filosofi masyarakat Turki, misafir adalah tamu yang dikirim oleh Allah ke tempatnya dan akan membawa keberkahan dan maslahat bagi sang tuan rumah.

Sejak kedatangan pertama saya ke Turki, kedermawanan mereka mereka dalam melayani misafir mesudah saya langsung rasakan.
Mantan teman sekamar saya (Meriem) rela membawakan koper-koper alakazam saya ketika saya akan pindah asrama. Ada lagi Elif yang mengajarkan saya bahasa Turki hingga larut malam padahal saya tahu harinya juga sangat melelahkan.
Belum lagi Yağmur, setia menjadi translator dan bodyguard kami menghadapi serangkaian administrasi asrama yang melelahkan dan menjadi narahubung kami dengan sesama pelajar yang kurang mengerti bahasa Inggris.
Ada si dermawan Ceren, rela membantu mencarikan kamar baru untuk saya hingga lewat tengah malam. Naik turun tangga demi memastikan si kawan yabancı-nya ini mendapatkan kamar tidur yang sangat nyaman. Bahkan dia rela berganti kamar dengan saya, padahal saya tahu kamar yang saya tempati sekarang sangat juga dia sukai.
Ada pula beberapa teman Turki yang langsung menculik saya ke kamarnya sesaat setelah kami bertemu di mescid (mushola), lalu disajikannya kacang khas Turki dan çay (minuman teh khas Turki) untuk saya. Çay adalah lambang kekeluargaan masyarakat Turki. Dalam sehari, mereka dapat menghabiskan lebih dari sepuluh gelas cay berbentuk bunga tulip sambil membicarakan banyak hal atau sekedar teman kala bermain Dama atau Okey  (permainan khas Turki).
Belum lagi kawan Turki lainnya yang tak ragu menyapa kami. Sungguh misafir seperti kami mempunyai tempat khusus di hati mereka. Bagi mereka, adalah suatu hal yang penting untuk memastikan para misafir merasa nyaman berada di sekitar mereka serta merasakan seperti berada di rumah sendiri, feels like home.

Selain kedermawanannya yang sangat saya kagumi, ada hal lain yang membuat saya berpikir bahwa Turki berbeda dengan yang lainnya.

Adzan subuh di Turki berbeda dari yang lainnya, sekalipun dengan negara Arab Saudi sebagai kiblat utama umat muslim.  Bukan lafadznya yang berbeda, tapi adzan subuh di Turki umumnya dikumandangkan setengah jam setelah waktunya.
Misalnya, Diyanet (Kementrian Keagamaan Turki) telah menetapkan waktu adzan subuh adalah pukul 06.35 TRT, namun adzan yang sesungguhnya baru dikumandangkan sekitar pukul 07.05 TRT. Gara-gara fenomena ini, saya pernah melaksanakan shalat subuh sebanyak empat rakaat. Karena saya telah melaksanakan shalat subuh sebelum adzan berkumandang. Jadilah ketika adzan subuh berkumandang pada pukul 07.05, saya melaksanakan shalat subuh ‘untuk kedua kalinya’.

Barulah saya mengerti setelah bertanya kepada kawan yang telah lama menetap di Turki. Pertimbangannya adalah pukul 06.35 dirasa masih sangat pagi dan dıkhawatirkan akan menganggu yang masih tertidur. Jadilah adzan subuh dikumandangkan setengah jam setelah waktunya. Tak masuk akal memang, namun beginilah adanya.

Masih banyak yang ingin saya bagi, utamanya akan kebaikan mereka yang menjadi tradisi turun temurun di kalangan masyarakat Turki. Terlepas dari baik dan buruknya Turki, saya belajar banyak hal dari sini. Terlepas dari persamaan dan perbedaannya, semua ini memperkaya pengalaman saya dan membuat saya semakin bersyukur. Perjalanan saya di Turki masih panjang, dan saya masih harus tetap belajar, melihat serta memahami. (http://www.flpturki.com/)

Sakarya, sambıl menıkmatı malam  0°.

Daily Activities

Menyuburkan Kesyukuran di Turki

Jatinangor, Indonesia, Akhir Tahun 2012

  1. Menara Eiffel di Paris,
  2. Flower Carpet di Brussels,
  3. Kincir angin di Belanda,
  4. Blue Mosque di Istanbul.

Saved.

Telah saya daftar tempat-tempat yang harus saya datangi nanti. Sebentar lagi Eropa bukan hanya sekedar mimpi. Dinginnya salju tak akan menjadi sekedar angan. Jumat pekan depan di jam yang sama, saya sedang melayang di atas belahan bumi Allah yang lain dalam perjalanan menuju negara yang sangat terkenal dengan kekuatan sang tokoh perang dunia kedua, Jerman.
Bukan tanpa sebab saya mendaftar tempat-tempat tersebut. Di buku-buku para traveler, nampaknya tempat-tempat itu menjadi primadona kelas wahid yang harus didatangi jika melancong ke Eropa. Tak afdhol rasanya jika berkunjung ke Eropa tapi tak menyempatkan merasakan romantisnya  jalanan Champs-Élysées dengan rentetan gerai yang menjajakan merk-merk papan atas dunia, mengagumi hamparan bunga begonia aneka warna di depan Grand Place Brussel,  atau sekedar berfoto di depan tulisan fenomenal  ‘I AMSTERDAM’.

Andrea Hirata (dalam Edensor) menulis, ‘bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu’, sangat mampu menyemangati saya untuk mampu mengembara, menenteng ransel di pundak, mencari pengalaman baru.

Maka tunggulah, hei, Istanbul, Paris, Amsterdam, Brussel, sebentar lagi kita akan bertemu!

p1260177
Menapak Paris Bersama Potret Keluarga
img_0454
Suatu senja di Amsterdam

Duisburg, Jerman, Musim Panas 2013
Hari ini adalah siang Ramadhan ke15.
Satu Ramadhan yang panjang bagi saya untuk merasakan menahan segala hawa nafsu, lapar dan dahaga sembilan belas jam lamanya.
Sejak sebulan yang lalu, krim anti panas matahari, kacamata riben warna hitam pekat dan perlengkapan musim panas yang lain telah saya siapkan. Semangat selapis baja sudah melekat di dada. Musim panas tahun ini harus dihabiskan di Izmir lalu berangkat ke Istanbul bersama dengan host family saya yang berkewarganegaraan ganda (Jerman dan Turki).
Tapi nampaknya rencana itu harus dipupuk dulu. Anne (Ibu angkat saya) siang tadi membatalkan rencana keberangkatan musim panas kami ke Izmir. Urusan keluarga kabarnya. Rencana shalat di Blue Mosque tinggal mimpi.

Hari ini adalah Ramadhan hari ke-15.
Salah satu waktu diijabahnya doa adalah saat berpuasa. Maka saya tanamkan doa dalam hati, ‘jika baik menurutMu, maka sampaikan saya pada Blue Mosque dan mimpi saya yang lain. Aamiin’.
Saya yakin, doa adalah salah satu senjata paling mutakhir bagi seorang muslim. Bismillah, suatu hari nanti, saya akan bisa ke berangkat ke sana.

Bandara Internasional Cengkareng, Jakarta, Indonesia, 18 Oktober 2016
Saya memeluk Ami saya erat di depan gerbang keberangkatan terminal C1. Sekilas saya lihat Abi saya menahan air mata. Sambil memeluk saya, ami berbisik untuk tidak meninggalkan shalat dan membaca al-qur’an. Tak mampu saya berkata selain, “Doakan ade, mi”.
Bismillah, saya siap menapak mimpi saya yang lama terpendam. Empat tahun lalu saya berdoa agar Allah sampaikan saya untuk dapat menapak Blue Mosque, merasakan atmosfer keindahan di Negeri Al-Fatih, Turki. Sebentar lagi, impian itu akan menjadi nyata.

Sakarya, Turki, 24 Oktober 2016
Tak ada perasaan selain rasa syukur dan air mata yang jatuh segera saat pesawat Turkish Airlines berhasil mendarat di Bandara Internasional Ataturk di Istanbul.
Dan lihatlah, Allah menjawab mimpi saya empat tahun kemudian. Tidak hanya sekedar menapak, tapi Allah takdirkan saya untuk lama menetap dan mengenyam pendidikan lewat beasiswa pemerintah Turki yang saya terima. Allah memang Maha Baik. Teramat baik untuk saya yang sering kali lalai dan lupa padaNya.

14716197_1230724240334914_8772512709361500438_n
Sarapan pertama di Turki bersama teman-teman di asrama.

Asrama saya adalah termasuk asrama termewah di Sakarya. Berbagai fasilitas yang disediakan oleh pihak asrama sangat menunjang kegiatan pendidikan dan merupakan sarana untuk memperkaya kemampuan para pelajar. Jarak dari asrama ke kampus saya hanya lima belas menit dengan berjalan kaki. Sejak pertama kali kedatangan ke Sakarya, saya dan teman-teman sangat dibantu dengan kehadiran teman-teman pelajar Indonesia di Sakarya dan tentu saja teman-teman Turki.
Adakah yang tidak membuat saya sangat bersyukur atas segala kenikmatan dan kemudahan ini?
Teringat Ami pernah berkata kepada saya, “Ami hanya bisa doakan Ade diberi segala kemudahan oleh Allah”.
Dan doa itu terjawab.


Subuh  ke enam di Turki. Cuaca tak begitu hangat, juga tak dingin. “Ne çok sıcak, ne çok soğuk” orang Turki menyebutnya. Tapi tetap saja tubuh saya yang made in Indonesia belum dapat beradaptasi dengan baik. Saya masih saja menggigil saat subuh menuju mescid (mushola). Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 06.30 pagi  TRT.
Subuh ini saya bersyukur sedalam-dalamnya, agar Allah menjaga rasa syukur saya dan rasa rindu untuk selalu mendamba cintaNya. Subuh ini saya jalani dengan sangat nikmat.
Tak ada indah selain indahnya saat doa-doamu diijabah di waktu yang tak disangka. Turki dengan segala pesonanya mampu menambah rasa kesyukuran saya padaNya. Alhamdülillah Alâ Külli Hal. (www.flpturki.com)

Rahime Sultan Kız Öğrenci Yurdu, Sakarya.
Malam bersalju.